Serunya Buka Puasa & Sharing bareng di Yappika

Oleh Nurdiyansah

Suasana akrab di antara kami, para relawan, dan segenap staf Yappika mulai tampak sekitar jam lima sore menjelang berbuka puasa (Senin, 06/09/’10). Tiba-tiba saja, kantor Yappika di Jl. Pedati Raya No. 20 ini menjadi riuh dengan canda-tawa dan obrolan hangat antara sesama relawan pula antar-staf. Mungkin terdengar agak berisik, tetapi tentu saja, tak ada yang merasa terganggu sore itu.

Memanfaatkan momen di bulan Ramadan tersebut, kami pun tak mau ketinggalan menikmati sensasi kebersamaan ketika menunggu bedug berkumandang dengan mengadakan acara buka puasa bersama. Maka kami berkumpul petang itu, bukan sekedar hendak menyantap lezatnya hidangan berbuka saja, melainkan hendak melahap habis segala senda-gurau yang kami munculkan sebagai pertanda keakraban kami sebagai keluarga besar Yappika.

Keramaian semakin bertambah ketika meja di ruang televisi telah berjajar rapih hidangan berbuka: nasi putih dengan sepanci besar sayur asem, ayam goreng, ikan asin, sambal dan kerupuk, juga aneka rupa gorengan dan es buah yang segar. (Hmmmm… kelezatan yang lengkap sudah!) Biarpun adzan belum berkumandang, tapi kami sudah siap dengan segelas teh manis hangat di tangan yang kami buat bersama-sama sebelumnya.

Bedug akhirnya berkumandang lewat televisi. Setelah gelas yang berisi teh manis, habis diteguk, giliran kami menyerbu es buah yang segera menghapus dahaga.

Kami juga dikejutkan dengan kedatangan beberapa relawan yang telah bekerja dan tak lagi aktif mengikuti kegiatan relawan di lapangan. Sapaan-sapaan yang menanyakan “Apa kabarnya?” atau “Sibuk apa sekarang?”, sudah pasti terlontar. Dan tak luput, sindiran penyemangat yang bertanya “Kapan, nih, lulus kuliah?” kepada relawan yang tengah sibuk menyusun skripsi. Kerinduan kami pada mereka pun terlihat dari dimulainya lelucon-lelucon ringan yang mengundang gelak-tawa. Ketika itu, siapa saja tentu dapat melihat, ada kebahagiaan dalam indahnya kebersamaan yang menghiasi udara di kantor Yappika saat itu.

Sesi Curhat dan Sharing Bareng Mba Tuti
Kebersamaan kami belum berakhir setelah perut kenyang dan solat Magrib selesai kami tunaikan. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, kami pun berpindah lokasi ke ruangan perpustakaan untuk melanjutkan acara saling berbagi alias curhat kegiatan yang telah kami lakukan, sekaligus menjadi ajang mengakrabkan diri dengan para relawan baru.

Prayit sebagai koordinator relawan periode ini, berdiri di depan dan mengajak kami untuk sekilas menyampaikan kegiatan apa saja yang kami lakukan, khususnya untuk program Keaksaraan Fungsional (KF) “Ayo Bantu 5,3 Juta Ibu Belajar Membaca”. Turut duduk bersama kami adalah Mba Tuti, wakil direktur Yappika, yang kerap menjadi pengasuh kami.

Bersuaralah masing-masing kami. Diyan, Opi, dan Iyot sebagai fundraiser curhat soal bagaimana kegiatan penggalangan dana yang mereka lakukan di berbagai mal dan ruang publik selama ini telah membuat mereka menjadi lebih percaya diri menghadapi publik dan melatih sikap mereka untuk ikhlas. Lain lagi dengan tim yang menjadi tutor atau pengajar para ibu di Marunda. Kentung, Wahyu, Mamet, dan teman-teman lainnya bercerita soal pengalaman mereka melatih kesabaran dalam menghadapi para ibu buta huruf untuk mengenal alfabet dan angka, serta memahami birokrasi pemerintah setempat dalam merealisasikan terbukanya kelas baru dan serangkaian kegiatan sosialisasi KF.

Sesekali tampak senyum dan tawa di wajah Mba Tuti ketika mendengarkan curhat teman-teman relawan. Ia pun akhirnya memberi komentar penyemangat terhadap betapa pentingnya pengalaman-pengalaman yang telah kami lalui dengan menjadi relawan.

Tak bisa ditahan lagi, cerita kami pun akhirnya memancing Mba Tuti untuk flashback ke masa lalu Mba Tuti ketika beliau menjadi mahasiswa dan relawan. Satu per satu Mba Tuti merinci segudang manfaat yang didapatnya dengan menjadi relawan, mulai dari kemampuan berbahasa Inggris, keahlian menghadapi masyarakat, bernegosiasi, menjadi fasilitator, membina jaringan, serta bagaimana kesukarelawanan telah membuat spiritualitasnya peka terhadap etika kepedulian untuk membantu orang. Tentu saja, menjadi relawan bukan berarti bekerja untuk kebutuhan finansial pribadi, melainkan sesuatu yang dibutuhkan untuk “memperkaya” khasanah pengetahuan dan sisi humanisme kami ke depannya.

Cerita Mba Tuti yang dibawanya ke forum kami, membuat kami kian semangat dan terus berupaya lagi untuk mewujudkan jiwa sosial kami, pula merangsang kami untuk kian haus mencari pengalaman baru yang bermanfaat bagi kami pribadi dan orang lain.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Rasanya kebahagian dan pengetahuan hari ini telah cukup kami santap. Prayit menutup acara malam itu di perpustakaan. Sebagian dari kami pun berpamitan. Kami bubar dengan senyum dan wajah gembira. Namun, sebagian dari kami ternyata masih betah berlama-lama di kantor, masih ingin memperpanjang obrolan dan sepuasnya menghapus kerinduan bagi kami yang lama tak jumpa.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.