Bukan ‘Jago Kandang’

Relawan yang terbina dalam kurun waktu sembilan bulan dalam kegiatan pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan payudara menginspirasikan pada kesolidaritasan dan pemberdayaan kelompok. Mulai dari proses sosialisasi dan negosiasi lintas kelurahan di kecamatan Koja yang menjadi ajang pembelajaraan bagi relawan Yappika. Hal ini setidaknya terbukti bahwa relawan Yappika tidak “jago kandang” tetapi lebih pada pengembangan kapasitas di aspek pengorganisasian masyarakat.

Ditemani oleh terik panas dan juga banjir yang menyelimuti kecamatan Koja, namun hal itu tidak menyurutkan semangat relawan “kanker payudara” untuk tetap melakukan amanah yang telah diberikan kepadanya. Amanah yang begitu besar dan bermanfaat bagi masyarakat setempat.

Banyak pengalaman dijumpai pada proses sosialisasi kegiatan ini, mulai dari penolakan, penerimaan sampai tempat curhat. Realita penolakan terjadi disalah satu puskesmas kelurahan yang memang agak sulit untuk mengadakan kegiatan pemeriksaan disana. Relawan pernah dipandang sebelah mata karena dilihat dari segi usia dan tidak mempunyai pengalaman. Masalah tersebut tak gentar untuk menyurutkan semangat kerelawanan “kanker payudara” untuk tetap melaksanakan tanggung jawabnya. Di sisi lain, kegiatan ini juga mendapat respon yang sangat baik dari berbagai pihak. Sehingga kegiatan ini dari pihak lain yang ingin melaksanakan pemeriksaan di lokasi masing-masing.

Realitanya, relawan menjadi tempat curahan hati para ibu-ibu yang memang belum mengerti tentang kanker payudara. Mereka mendengar curhatan ibu-ibu yang sering merasa sakit dibagian payudara. Dengan dibekali pengetahuan tentang kanker payudara dari Dr. Kardinah, setidaknya relawan dapat menjawab pertanyaan para ibu-ibu. Apalagi para ibu yang takut jika diperiksa payudaranya, relawan secara interpersonal mendekati ibu tersebut untuk tidak takut diperiksa. Hal ini membuat relawan yang terlibat saat turun ke lapangan, seakan-akan ingat akan ibu mereka.

Relawan “kanker payudara” tidak mengenal lelah meskipun tiap minggu mereka turun lapangan. Dengan bekal pengetahuan, semangat dan tanggung jawab mereka menjalani dan melewati proses pembelajaran ini dengan “EFI” (enjoy, fun dan ikhlas). SEMANGAT……SEMANGAT……SEMANGAT…………..*** Elita Triandayani

Satu Tanggapan

  1. Nah …… ini bagus tulisannya….hayo hayo…mana tulisan-tulisan yang lain lagi………….kayaknya pada punya banyak pengalaman pribadi tuh. Leo yang diminta fasilitasi, siska-sofa-anti di kanker payudara, fanti yg sudah berhasil full di YLBHI, pak Dul Hamid yg sudah mahir bikin web, delia,itun…………..cup…cup….ah….

Tinggalkan Balasan