Peranan Relawan WWF Menanamkan Rasa Cinta Lingkungan kepada Anak Didik

WWF (World Wild Fund) sebagai sebuah organisasi konservasi lingkungan dalam menjalankan program kampanye lingkungan melibatkan relawan yang dinamakan dengan Public Educators (PE). Relawan ini berasal dari mahasiswa yang sering disebut dengan sahabat alam. Nazla Mariza, staf WWF pada divisi membership/marketing communications yang juga sebagai penanggung jawab kampanye ini mengatakan dilibatkankannya relawan dalam kampanye lingkungan adalah karena WWF tidak bisa melaksanakannya sendiri sehngga membutuhkan peranan masyarakat/publik.

sekolah_dharma_putera.jpgKampanye lingkungan ini dilaksanakan di sekolah baik SD, SMP dan SMA yang ada di kota Jakarta dan Tangerang. Rata-rata sekolah itu adalah nasional plus dan internasional seperti Al Azhar, Bina Bangsa, Pelita Harapan, BPK Penabur, dan lain-lain. Program ini dinamakan dengan Junior Conservationist Goes to School (JC Goes to School) yang sudah berjalan selama satu tahun mulai bulan Juni 2006 sampai dengan saat ini dan sudah ada sekitar 100 sekolah yang dikunjungi.

Anak Didik Perlu Mengetahu Bahaya Global Warming

Public Educators yang mengunjungi sekolah-sekolah sebagaimana penuturan Nazla mengkampanyekan tentang global warming yang sedang hangat di WWF saat ini. Tujuannya adalah supaya anak-anak sejak sedini mungkin mengetahui bahaya global warming dan mereka bisa melakukan sesuatu untuk mencegah global warming. Caranya dengan berhemat listrik. Mereka ke sekolah selama satu (1) jam, 40 menit kampanye global warming dan 20 menit merekrut anak-anak untuk bergabung menjadi anggota (member) Junior Conservationist. Anak-anak yang sudah direkrut membayar donasi sebesar Rp. 50.000,- setahun. Dalam hal ini berarti relawan membantu WWF untuk fundraising. Menurut Nazla, saat ini sudah ada 6.000-an anggota Junior Conservationist yang berasal dari anak-anak SD, SMP dan SMA yang ada di kota Jakarta dan Tangerang. Jadi ada dua hal yang dilakukan relawan WWF di sekolah-sekolah yaitu kampanye global warming dan merekrut anak-anak SD, SMP, SMA untuk menjadi anggota Junior Conservationist.

Junior Conservationist Membanggakan

”Banyak hal yang membanggakan dari Junior Conservationist, ternyata ilmu pendidikan lingkungan yang ditanamakan itu mereka kembangkan lagi”, ungkapnya. Hal ini dibuktikan dari inisiatif anak-anak berkampanye, membantu WWF bikin brosur, menyebarkan brosur tersebut dan mengatakan kepada bapak/ibunya (orang tuanya) untuk menjaga lingkungan. Hal membanggakan lainnya adalah seorang anak kelas 6 SD Pelita harapan dua bulan yang lalu berinisiatif membuat sendiri brosur tentang pencemaran air dan udara. Kemudian dicetak sendiri lalu disebarkannya. Itu adalah tugas akhirnya dengan tema lingkungan.

Disamping itu, lanjut aktivis lingkungan ini ada anggota Junior Coservationist dari SMP Negeri yang ada di Jakarta namanya Muhamad Hasan menulis artikel tentang animal (binatang). Pendidikan lingkungan di sekolah, katanya cukup efektif. Jadi, Public Educators bagus dan berhasil menanamkan rasa cinta lingkungan kepada anak-anak di sekolah, imbuhnya.

Nazla mengatakan bahwa, program JC Conservationist Goes to School ini merupakan pengembangan dari program divisi pendidikan lingkungan, dimana divisi ini hanya mengadakan pendidikan lingkungan kepada anak didik, tidak merekrut anak didik tersebut menjadi anggota Junior Conservationist. Selama satu tahun ini divisi pendidikan lingkungan dan divisi membership kerjasama dalam kampanye pendidikan lingkungan ke sekolah sekaligus fundraising Junior Conservationist. Demikian juga untuk seterusnya.

Rini, staf divisi pendidikan lingkungan WWF juga menjelaskan peranan relawan membantu divisi pendidikan lingkungan dalam menyelenggarakan pendidikan lingkungan ke sekolah-sekolah yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2000. Berbeda dengan kampanye lingkungan yang berada dalam naungan divisi membership yang hanya dilaksanakan di sekolah-sekolah yang ada di Jakarta dan tangerang, divisi pendididikan lingkungan menurut Rini mengadakan pendidikan lingkungan ke sekolah-sekolah SD, SMP dan SMA Jakarta meliputi kota Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (JABODETABEK). Program ini, kata Rini dibantu oleh 4-6 orang relawan seperti Santi, Bayu, dll. Hal-hal yang diajarkan para relawan kepada anak didik adalah tentang keanekaragaman hayati, gaya hidup hijau, buang sampah pada tempatnya, hemat listrik, hemat energi, dan lain-lain.

Memotivasi Kepedulian Anak-Anak terhadap Lingkungan

sekolah_dian_harapan2.jpgMetode pengajaran yang dilakukan adalah memutar film, kemudian menceritakan isi film itu kepada anak-anak, setelah itu diadakan tanya jawab, yang terakhir adalah evaluasi dan game. Adapun tujuan diadakan pendidikan lingkungan ini kepada anak-anak di sekolah sebagaimana dikemukakan perempuan yang peduli dengan lingkungan ini adalah untuk memotivasi kepedulian murid-murid terhadap lingkungan. Sedangkan yang menjadi alasan anak-anak menjadi sasaran pendidikan lingkungan ini menurut staf WWF sejak tahun 1993 ini adalah karena anak merupakan investasi yang sejak kecil harus ditanamkan peduli lingkungan.

Nazla yang juga mengetahui kiprah Santi sebagai relawan WWF dalam membantu divisi pendidikan lingkungan mengatakan bahwa caranya Santi memberikan pendidikan kepada anak didik adalah melalui game tentang lingkungan, yang berupa rantai makanan, ular tangga. Selanjutnya ada pertanyaan tentang lingkungan seperti apa beda penyu dengan kura-kura, kemudian diajak diskusi tentang fungsi hutan.

Pendidikan lingkungan yang diselenggarakan divisi pendidikan lingkungan kedaerah seperti Aceh, Alur Solor, lanjut Nazla juga melibatkan Santi. Demikian juga acara liburan anak-anak yang diadakan divisi pendidikan lingkungan setiap tahun, Santi dan relawan WWF yang lain sebagai fasilitator untuk anak-anak sekolah, tahun lalu diadakan di Cibodat, sedangkan tahun ini di pulau Seribu. Acara ini juga dalam rangka pendidikan lingkungan kepada anak-anak. (Judianto S)

Tinggalkan Balasan