Kesukarelawanan bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dimana saja dan dalam bent uk apa saja. Seperti yang dilakukan oleh Sri Hastuti yang menyulap garasi rumahnya menjadi taman bacaan. Prihatin melihat kondisi anak-anak kecil di sekitar rumahnya, yang menurutnya liar dan kurang terkendali, menggugah ibu dua orang anak ini mendirikan taman bacaan. Kini, taman bacaannya telah memasuki tahun kedua dan memiliki anak didik sekitar 40 anak.
Awalnya mungkin tidak terpikirkan dalam benak Sri Hastuti untuk mendirikan taman bacaan, apalagi sampai mengorbankan garasi rumahnya pula. Wanita kelahiran Boyolali 54 tahun silam ini, memiliki aktivitas luar rumah yang padat. Pergi pagi, pulang petang dan begitu seterusnya hingga masa pensiunnya. Sehingga, bertahun-tahun tinggal di Jl. Kedaung, Petukangan Utara, Jakarta Selatan kurang begitu mengenal keadaan lingkungan rumahnya.
Hingga masa pensiunnya pun tiba, aktivitasnya lebih banyak dihabiskan di rumah. Saat itu dia menyadari ada hal yang tidak beres di lingkungan sekitar rumahnya. ”Saya melihat anak-anak di sini kurang terkendali. Mereka selalu berisik, kerjaannya main melulu. Terkadang, mereka mengumpat temannya dengan kata-kata kotor dan bagi saya itu seperti agak liar”, imbuhnya. Hal tersebut menggugahnya untuk merubah perilaku anak-anak kecil tersebut untuk jadi lebih baik. Timbullah ide untuk mengumpulkan mereka di rumahnya, alih-alih mengisi waktu luang mereka dengan sesuatu yang lebih bermanfaat.
”Awalnya, saya mengundang anak-anak untuk bermain di tempat saya. Memang agak sedikit susah ya. Saya juga membujuk mereka dengan minuman dan makanan ringan agar mererka lebih tertarik”
“Awalnya, saya mengundang anak-anak untuk bermain di tempat saya. Memang agak sedikit susah ya. Saya juga membujuk mereka dengan minuman dan makanan ringan agar mereka lebih tertarik”, kata wanita yang terakhir bekerja tercatat sebagai anggota Pusat Audit Teknologi-BPPT ini. Mula-mula mereka diajak bercerita dan benyanyi di depan umum, untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. ”Dulu, mereka kalau disuruh menyanyi suaranya kecil sekali, sampai tidak kedengaran. Mewarnai pun seperti itu, mereka hanya membuat lingkaran kecil-kecil”, tegasnya. Mereka juga diajari membaca dan menulis, mengingat ada sebagian mereka yang tidak bersekolah.
Seiring berjalannya waktu, tempat kumpul anak-anak kecil tersebut menjadi sebuah taman bacaan. Memasuki usianya di tahun ke dua ini, anak didiknya mencapai 40 orang. Perkembangannya pun cukup memuaskan, mereka kini tidak minder lagi di depan umum, baik ketika bernyanyi maupun bercerita. Satu hal yang pasti, kini mereka lebih sopan dan ucapan mereka pun terkendali, sebagaimana yang VolunteerNewsletter saksikan beberapa waktu lalu ketika berkunjung ke taman bacaan tersebut.
Semua itu bukan berarti perjalanan taman bacaan ini tanpa hambatan. Hambatan yang sangat besar terutama datang dari orang tua mereka. Karena pola pikir yang salah dan ekonomi keluarga yang rendah, membuat ide mulia ini kurang mendapatkan dukungan dari orang tua mereka. Tapi itu terjadi hanya pada tahun pertama saja. Kini, setiap kali taman bacaan tersebut buka pada hari Selasa dan Kamis, orang tua mereka juga ikut datang dan ikut membaca pula tentunya.
Satu pesan dari wanita yang bernama lengkap Ir. Sri Hastuti Budisantoso tentang kesukarelawanan, terutama untuk generasi muda, yaitu aware dengan lingkungan. ”saya sangat sedih karena saat ini banyak anak muda yang acuh”, imbuhnya. Masih menurutnya, kesukarelawanan dapat menghilangkan gap yang ada dalam kehidupan sosial kita. (hamid)
DIarsipkan di bawah: Profil


